Pages

Showing posts with label Ngawayang. Show all posts
Showing posts with label Ngawayang. Show all posts

Friday, May 6, 2011

Gugurnya Gatot Kaca

Iya zan,

Keturunan pandawa pada bharatha yudha gugur tdk terkecuali gatot kaca. Gatot kaca sebenarnya sejak jabang bayi sudah gugur, dia dijadikan tumbal pada naga percona yang waktu itu ngamuk mau menghancurkan suarga loka (tempat para dewa dewi).

Kalahnya naga percona yi oleh sijenet (nama gatot kaca kecil) dan gugur juga. Namun sang ibunda kunti nalibrata (bangsa dedemit yg dikutuk dewa menjadi dewi cantik/ geulis) sangat bersedih akhirnya para dewa dewi mengadakan sindang istimewa, siding darurat.

Gatot kaca dibangunkan kembali lewat proses penggodokan dikawah candradimuka. Semua panca indera gatot gaca adalah dewa dewa. Diantaranya dewa saptapangrungu yang menjadi indera pendengaran gatotkaca. Maka jangan heran kalo gatot kaca sakti mandraguna, urat kawat tulang besi. Hehe. Jadi ibaratnya gatot kaca itu manusia jadi jadian / cyborg. Tidak ada satupun senjata dimuka bumi ini yang bisa mempan kpd nya.

Bagaimanapun kuatnya dan sakti mandragunanya gatot kaca tetap punya kelemahan, yaitu oleh satu senjata dari bangsa dewa itu sendiri. Senjata satu satunya itu namanya konta. Senjata yang diturunkan dewa batara surya kepada Adipati Karna (kakak para pandawa). Senjata ini sempat diperebutkan antara karna dan arjuna. Saat itu arjuna memerlukan senjata ini karena jabang bayi (gatotkaca) keponakannya, ari arinya (udelnya) tidak bisa dipotong. Pada perebutan senjata ini arjuna hanya mendapatkan warangkanya saja (wadah senjata konta itu). Namun bisa digunakan untuk memotong tali ari2 jabang bayi. Sekaligus menghilang. Kisah ini terjadi sendiri dan kisahnya sebenarnya panjang….

Mendung di kurusetra.., saat itu gatotkaca bertarung dengan gagahnya melawan Adipati Karna (pahlawan Kurawa) yang sebenarnya uwa nya sendiri. Nasib diri teu bisa dipungkir guratan takdir sudah dituliskan saat itu gatotkaca terbang ke awang awang sampai sampai menembus langit ke tujuh untuk menghindari senjata konta. Konon sebenarnya konta sudah tidak bisa lagi mencapainya namun karena supata Dewa (saya lupa asal muasal keluar supata ini) akhirnya konta menembus gatot kaca..

Gugurnya gatotkaca ini bikin sedih zan, sejak kecil saya mengidolakan dan tokoh wayang golek yg saya punya sejak kecil..

Kalau pertunjukan wayang di jawabarat keluarnya gatotkaca suka diiringi lagu “teu honcewang”, lagu yang sangat nasionalis.

Sejak tau cerita ini, tokoh yg saya sukai adl Bima

Segitu dulu zan cerita yang saya inget dikepala … versi yang saya sering dengar.

Friday, September 17, 2010

Lamsijan Jumaahan

 

Kacaturkeun Lamsijan ngilu jumaahan jadi salah sahiji jamaah masjid. Tos biasa di ungal masjid lamun imam keur naek mimbar khotbah sok aya kencleng muter.  Harita oge di Masjid tempatna Lamsijan jumaahan kitu.  Gancangna wae, kencleng muterna geus deukeut ka manehna, terus lamsijan ngodokan saku niat rek ngasupan kencleng milihan duit pangleutikna anu pecahan sarebu salambar. 

Palebah kencleng geus hareupeun, salah saurang jamaah anu persis ditukangeun manehna noelan bari ngasong ngasong duit saratus rebu salambar.  Ditampanan we ku manehna bari terus diasupkeun kanu kencleng, “Ieu jelema meni gojeh arek ngasupan kencleng saratus rebu wae oge teu sabaran meni noelan, tungguan we da engke oge kenclengna muter”, si Lamsijan gegerentes jero hatena.  Duit sarebuna oge sup weh deuih. 

Tapi teu kungsi lila eta jelema nu tadi noel geus noel deui, ayeunamah bari ngaharewos kieu “artos akang saratus rebu tadi nuju ngodok saku murag”. 

Si Lamsijan ngabelengep bari terus mencrong kencleng nu muter…

hehe

 

 

Friday, May 14, 2010

Kaki Gunung Tampomas dan Jagur



".....dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali
dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati......."


Begitulah pagi itu dibuka oleh penggalan lagunya bejudul "Kembang Boled" yang dipopulerkan penyanyi bernama Bungsu Bandung. Masih penyanyi asal daerah itu meski tidak tepat di kaki Gunung Tampomas, Sumedang. Meluncur dari bibir penyanyi lokal ,diiringi kendang penca yang mulai dipukul dan bunyi terompet khas. Untuk pertunjukan salah satu kesenian khas tatar Pasundan, Jawa Barat " Ngadu domba " atau kesenian tangkas domba.

Menonton pertunjukan ini mungkin tidak semuanya suka, karena domba yang diadu membuat sebagian penonton mungkin merasa ngilu, kepala pusing ataupun kasian terhadap dombanya. Namun itulah kesenian tangkas domba yang sebagian besar penggemarnya didominasi oleh kaum pria. Kesenian ini turun temurun dan sekarang semakin variatif. Tidak hanya bagaimana domba diadu tetapi itu hiburan, bagaimana kesenian lainnya juga dapat tampil dan eksis. Apresiasi atau motivasi peternak domba kambing untuk lebih menghasilkan domba domba berkualitas.

Jagur, nama motor sudah duluan diparkir di pinggir arena yang mungkin sebentar lagi penuh penonton. Pa Kuwu Encep dengan pakaian serba hitam memakai topik laken (topi koboy) seperti di Texas sana tampak gagah memimpin ditengah arena sebagai wasit pertandingan, tampak juga Mang Engkus sama memakai pakaian hitam, si wakwak, Asep Beben dan penonton lainnya yang rata berpakaian hitam hitam dengan memakai
totopong (iket kepala) khas sunda. Hari itu, minggu ke tiga setiap bulannya di arena Dasa Grup "Kaki Gunung Tampomas" terlihat ramai dengan hadirnya banyak tamu undangan dari berbagai kota di Jawa Barat.

Arena Dasa Grup (berlokasi di kaki Gunung Tampomas), diambil dari nama salah satu domba milik Haji Abidin, domba yang terkenal gagah pada masanya, dengan tanduk berdiri kokoh, dan memiliki bulu yang bagus kalau sedang tanding tampak sebagai satria (berani). Jangan salah domba bisa memiliki nama nama yang bagus, seperti si pilar, si sinar, jenet, si baranyay, barasat dan lain sebagainya.

Pertunjukan dimulai, kang cece tampil kedepan ngibing (menari) silat mengiringi dombanya yang masuk arena musik pengiring meriah, tak kalah sang lawan dari kota lain menyambut masuk arena sebagai lawan memasukan dombanya, Kuwu Encep sigap memimpin. Kemudian domba diadu 15 hingga 30 hitungan tergantung usia domba dan kelas*. Yang punya akan tampak senang kalau domba diadu serasi, mundur yang panjang kemudian lari maju kencang menerjang dengan gesit, apalagi kalau kaki domba seolah menyusur tanah yang dipijak. Itulah domba unggulan dan akan melambungkan nama domba tersebut, pemiliknya hingga harga jualnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Pemilik tampak senang setelah domba diadu gagah, kemudian setelah itu biasa merequest lagu "Kembang Gadung" salah satunya sambil ngibing penca memperlihatkan jurus jurus ibing, tak kalah gagah dari jagoannya. Diakhiri sawer ke pengiring. Begitulah pertunjukan ini berulang sampai hari menjelang siang.

Jagur pun pergi beranjak dari parkir untuk perunjukan lainnya yang gak kalah menarik... gas pol*** (next story)




Note (*
Kelas kelas domba (biasanya berdasarkan ukuran dan bobot)
A : kelas paling besar dengan berat 60 - 80 kg
B : kelas dibawahnya dengan berat 40 - 59 kg
C : kelas dengan berat 25 - 39 kg
D : kelas dengan berat di bawah 25 kg

Usia domba biasanya ditandai dengan jumlah gigi tanggal berdasarkan urutan usia muda ke tua :
satu kali artinya dua gigi tanggal (peunglak dua)
dua kali artinya empat gigi tanggal (penglak opat)
hingga empat kali artinya delapan gigi tanggal


Bandung, 15 Mei 2010

Monday, November 23, 2009

Werkudara atau Duryudana ?

Werkudara atau Duryudana ?

Masyarakat Jawa memiliki kebiasaan untuk menilai
seseorang antara lain dari sosok lahiriah. Cara memandang seperti ini, menyebabkan di kalangan
masyarakat Jawa ada istilah katuranggan.

Kata ini berasal dari kata dasar turangga yang
berarti kuda atau kendaraan. Kata ini dipilih untuk menegaskan bahwa dalam
kultur Jawa, penampilan lahiriah itu
tetap penting. Walaupun demikian bukan
menjadi satu-satunya pembenaruntuk menjatuhkan pilihan hanya dengan
melihat ciri-ciri fisik belaka.

Tetapi jelas, bahwa memberikan
penekanan pada keadaan fisik dengan simbolisasi turangga atau kuda ini, bukan sembarangan, karena kuda
memang binatang peliharaan yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Jawa, dan
bahkan hampir di seluruh dunia.

Paling tidak, ada tiga kebanggaan
bagi orang Jawa, yaitu kukila(burung) , turangga (kuda)
dan curiga (keris).

Ketiganya merupakan simbol kebangsawanan dan kepemimpinan.

Tidak mengherankan, jika dalam
berbagai epik cerita Jawa selalu terdapat ketiga simbol tersebut. Bahkan
keahlian seseorang pembuat keris (empu)
merupakan keahlian yang sangat terhormat. Tentu kita ingat kisah tentang Empu
Gandring yang membuat keris untuk menjadi simbol
kekuasaandan piyandel para pemegang tampuk kekuasaan di
Jawa.

Karena kita tidak akan berbicara
mengenai kukila dan curiga, maka kita akan
memfokuskan diri berbicara tentang turangga.

Kata dasar turangga yang kemudian mendapat
awalan ka dan akhiran an menjadi katuranggan,
yang dapat dipahami sebagai cara untuk melihat sisi kejiwaanseseorang melalui
penampilan lahiriahnya.

Para dalang di Jawa, selalu
menggambarkan katuranggan sosok
wayangsetiap kali memainkan wayang itu untuk menjelaskan seperti apa gambaran sifat dan perilakumelalui
fisik tokoh yang dimaksudkan.

Cara ini dianggap sebagai cara
yang paling mudah untuk menilai seseorang, terutama ketika orang Jawa hendak
memilih seseorang sebagai pemimpin.

Walaupun demikian, hanya dengan
melihat katuranggan saja, orang seringkali salah.

Namanya juga ciri fisik –orang
Jawa menyebutnya wadag– jauh lebih banyak menipu dibandingkan
dengan kondisi riil si tokoh itu.

Sekedar contoh, dalam dunia
pewayangan, ada dua tokoh yang mempunyai dedeg piyadeg atau
ciri fisik yang nyaris sama. Tokoh yang dimaksud adalah Werkudaradan Duryudana.

Werkudara adalah anak kedua Pandu Dewanatadari Pandawa Limayang berbadan tinggi dan tegap. Dia selalu digambarkan
sebagai penyangga keutuhan Pandawa Lima karena kekuatan fisiknya dan –tentu
saja– ilmunya.

Sehingga Werkudara selalu menjadi
benteng terakhir ketika keselamatan negara, rakyat dan keluarganya terancam.
Bahkan acapkali dia tidak memedulikan keselamatannya sendiri, asalkan negara,
rakyat dan keluarganya tetap berdidi tegak. Dalam keadaan ini, dia adalah
seorang satria pembela negara yang sangat
patriotik.

Werkudara memiliki beberapa nama,
tetapi yang sering digunakan adalah Bima, Werkudara, dan Bratasena.

Ilmunya juga sempurna, karena ia
seorang murid yang sangat taat kepada gurunya yaitu Pandita Durna.

Dia adalah sosok seorang yang
lugu, jujur dan selalu berbicara apa adanya. Apapun perintah gurunya akan
dilaksanakan sampai tuntas walaupun sulit dan berbahaya.

Karena keluguannya pula, dia
tidak curiga sedikit pun ketika gurunya memerintahkan untuk mencari air
kehidupan sampai ia harus bertapa di tengah samudera menghadapi amukan
badai dan gelombang yang dahsyat.

Tetapi justru di situlah dia
bertemu dengan Guru Sejati yang disebut Dewa Ruci.

Tokoh Dewa Ruci adalah sosok yang mirip Werkudara dalam bentuk’mini’.

Dari Guru Sejati inilah dia memperoleh ilmu yang tiada tara
bandingannya.
Itulah Werkudara, alias Bima,
alias Bratasena.

Banyak pemimpin Indonesia yang
mengidolakan sosok ini dan memajang tokoh wayang itu di rumah kediaman untuk
menegaskan keinginannya meniru wataksatria yang satu ini.

Padahal Werkudara bukan pemimpin negara. Apakah nantinya
sosok tokoh yang dipajang itu berdampak pada caradan sikapkepemimpinanny a, itu soal lain.

Bagaimana dengan tokoh yang satu
lagi, yaitu Duryudana?.

Duryudana adalah Raja Astinayang memiliki dedeg
piyadeg sama persis dengan
Werkudara. Tinggi besar, tegap dan tentu saja bertenaga.

Dia adalah anak tertua Prabu Destarata, kakak Pandu Dewanata, yang konon menurut
cerita mempunyai anak 100 orang banyaknya.

Dia digambarkan sebagai raja
gung binathara alias Raja yang terhormat memiliki kekuasaan mutlak.

Dia selalu didampingi oleh Patih Sangkuni, Pandita Durna, dan raja-raja kecil yang menjadi mitra koalisinya.

Patih Sangkuni adalah seorang
yang memiliki keahlian mengatur siasat.

Maka, dalam Perang Baratayudha, dia adalah pengatur
strategiyang sangat piawai. Sayangnya, di dalam pikirannya tidak ada lain
kecuali jabatan, kekuasaandan kedekatandengan Sang Raja.

Maka demi memuaskan Raja, taktikdan strategi licikpun tidak
haramuntuk dilaksanakan demi melanggengkan
kedudukan.

Berbeda dengan Sri Kresna, yang menjadi penasehatKeluarga Pandawa.

Dia tahu apa yang harus
dikerjakan, karena sebagai titisan Wisnu, dia paham apa yang akan
terjadi dalam Perang Baratayudha, karena dia memegang Kitab Jitapsara yaitu skenario yang dibuat para Dewa untuk
Perang Baratayudha.

Siapa lawan siapa dan siapa yang
akan kalah atau gugur di medan laga sudah ditulis disana.

Sehingga Sri Kresna selalu
menunggu apa yang akan dilakukan oleh Kurawa(Astina) .

Ketika Kurawa mengeluarkan Bismasebagai Panglima perang, Kresna
menunjuk Srikandi–isteri Arjuna–
untuk menandingi. Kresna memanfaatkan kelemahan Resi Bisma yang pernah
mengecewakan seorang wanita yang amat mencintainya.

Dia tidak mau menikahi wanita itu
karena terikat sumpahnya sendiri tidak akan menikah seumur hidupnya. Karena
kecewa, diapun bunuh diri dan bersumpah akan membalas sakit hatinya lewat seorang wanita pula. Wanita yang
dimaksud itu adalah Srikandi, isteri Arjuna yang memang tangkas dan ahli
memanah. Bisma pun gugur.

Lalu, ketika Kurawa memajukan Prabu Salyayang memiliki ajian Sasra Birawa, Kresna menunjuk Prabu Samiaji, anak tertua Pandawa untuk
menandingi.

Pilihan ini agak mengherankan,
karena Prabu Samiaji adalah orang yang tidak
pernah marah. Apapun yang dia miliki akan diberikankepada siapa pun yang meminta. Itulah sebabnya, dia dan
keempat saudaranya terusir dari Astina ketika kalah bermain dadu karena
dicurangi oleh Kurawa atas akal licik Patih Sangkuni.

Justru Kresna memilih Prabu
Samiaji untuk maju perang untuk menghadapi ajian Sasra Birawa yang dimiliki
Prabu Salya, setelah dia mengutus si kembar Nakuladan Sadewakepada Prabu Salya
menyampaikan permintaan agar mereka berdua dibunuh karena tidak tahan melihat
penderitaan saudara-saudaranya akibat keperkasaan Prabu Salya yang adalah
uwaknya sendiri.

Nakula-Sadewa adalah anak kembar
keluarga Pandawa dari ibu yang bernama Dewi
Madrim, adik Prabu Salya.

Maka Salya pun memberitahu dua
keponakannya itu, agar Prabu Samiaji maju ke medan laga. Dialah satu-satunya
orang yang dapat menandingi ajian Sasra Birawa.

Ajian ini diperoleh oleh Salya
muda dari mertuanya seorang sakti berwajah raksasa Bagaspati. Sebenarnya ajian ini diperoleh dengan cara licik, yakni
memanfaatkan kecantikan Setyawati,
anak Bagaspati yang cinta mati padanya. Salya muda hanya mau menikahi
Setyawati, jika Bagaspati menyerahkan ajian Sasra Birawa itu kepadanya. Demi
cintanya kepada anaknya, dengan berat hati, Bagaspati menyerahkan ajian itu
kepada Salya.

Dan dengan ajian itu pula,
Bagaspati tewas di tangan menantunya.
Saat meregang nyawa itulah Bagaspati menyatakan, kelak Salya akan bernasib sama
dengannya dalam perang Baratayuda ketika berhadapan dengan seorang satria berdarah putih. Satria itulah
Prabu Samiaji.

Prabu Salya pun gugur, karena
ajian Sasra Birawa tidak mempanpada musuh yang tidak mudah digoda nafsu amarahseperti Samiaji.

Bagaspati sendiri yang
menggerakkan tangan Samiaji untuk membunuh Prabu Salya.

Sebenarnya, Kurawa bukanlah orang
yang mudah dikalahkan, karena mereka pun murid Pandita Durna.

Mereka mudah dikalahkan, karena
Prabu Duryudana sebagai Raja yang memiliki kekuasaan mutlak itu tidak cekatan mengambil keputusan.

Dia mudah dipengaruhi oleh mitra koalisinya, penasehatnya yaitu Patih Sangkuni.

Bahkan ketika dia harus
berhadapan dengan Werkudara dalam perang tanding, meskipun secara fisik dan
ilmu tidak kalah, dia jadi pecundang karena sikap
cengengnya.

Tiap sebentar dia bertanya kepada Sangkuni, kepada saudaranyaatau kepada raja kecil mitra koalisinya.

Bisa ditebak jika akhirnya dia
pun gagal, dan menjadi pecundang.

Kita mengidamkan pemimpin kita
laksana Werkudara, bukan Prabu Duryudana.

Sebab meskipun secara fisik
serupa, tetapi ternyata kegagahan dan
ketampanan fisik saja tidak cukup memadai untuk mengatasi keadaan gawat.

Sumber: milis pro kahmi




Monday, May 25, 2009

Pangalaman Kabayan di Betawi

Ngiring neraskeun ah..samemeh kabayan geubis ka sumur:
Saatos beres ti WC kang kabayan neraskeun perjalanan. Nuju mapay-mapay trotoar Kabayan haus, biasa pan seperti yang kita tau Jakarta memang hareudang (panas) kurang iiuhan (penghijauan) . Ngareret ka palih kenca aya tukang duwegan sareng aqua teh botol ngarendeng. Teras we kabayan mengkol heula, saatos hareupeun tukang dagang kabayan gegerentes sorangan" meuli naon nya?,duwegan atawa cai koneng anu diwadahan gelas plastik ".., kabayan rada mikir da bisi hargana mahal. Teu lami akhirna kabayan mutuskeun meser duwegan. Suruput2 duwegan disedotan. Saatos beres kabayan bade mayar, "mang atos, sabaraha yeuh?" "delapan ribu saja" kabayan ngajenghok, naha mahal mahal teuing harga duwegan pikirna . "ari cai koneng anu digelasan sabarahaan mang" "seribu saja", jawab tukang dagangnya, kabayan tambah ngajenghok. Bari ngaluarkeun artos anu diselapkeun dinu kopeah kabayan gegerentes kieu " apal kitu mah tadi meuli cai koneng digelasan pan hayang ngasaan, ari sugan teh duwegan hargana murah, pepeuriheun dilembur loba anu teu kaala malah beak kubajing.

Tidieu kabayan jadi mikir bade muka UKM keur pamuda dilemburna anu basisnya ngamanfaatkeun kalapa..

Bandung, 22 Mei 2009

Tuesday, March 24, 2009

Bongsang

Bongsang yaitu nama buat keranjang atau wadah tahu. Terbuat dari bahan bambu dengan cara dianyam. Bongsang dibuat mengerucut menyerupai topi, dan biasanya penjual tahu asongan membawanya dengan sekalian dijadikan topi.
Anyaman bongsang dibuat renggang sehingga dalam penggunaanya biasanya diberi alas kertas, penjual tahu banyak menggunakan kertas koran bekas sebagai alas untuk bongsang ini. Keunggulan bongsang yaitu bahan baku ramah lingkungan karena terbuat dari bambu yang dapat didaur ulang, sifatnya kuat sesuai sifat bahan bambu itu sendiri, cocok sebagai tempat produk makanan yang sifatnya panas dan basah seperti tahu goreng sehingga dapat mempertahankan keawetan produk tahu itu sendiri.ISN

Kupersembahkan buat pengrajin bongsang yang pagi itu seperti biasanya terlewatkan mata melintas didepan rumah pergi untuk menjajakan hasil karyanya.

Bima bima
Bandung, 24 Maret 2009

Friday, February 27, 2009

Bima Bima

Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci. Masyarakat kita, jika memarahi orang atau mengingatkan orang, akan menggunakan jari telunjuk yang teracung, simbolisme Bima yang sedang mengingatkan kesalahan kepada orang lain. Inilah gambaran tokoh bima dalam pewayangan.

Friday, February 13, 2009

parkiran bp 1 february 2009


ieu di parkiran bp tanggal 1 februari 2009, mun teu salah keur ngomongkeun motor, nu di bahas harita jigana masalah bor up jeung kenalpot eta motor kawasaki hejo. ngebul pisan atuh da. anu bogana neangan obeng rek muka dop na, teuing rek dinaonkeun.
tapi bisa jadi ngomongkeun pagawean, merger bank anu teu jelas jeung rencana rencana arulin. anu jelas mah nungguan barudak datangna lelet pisan. tapi lamun ngomongkeun bank tong dipercaya kabeh oge, da nu nulisna oge nyasar asup ka bank na oge.
naon wae obrolan waktu harita mudah2an nambah akrab urang sarerea tong ngajadikeun sapu nyere peugat simpayna, kulantaran anu sawareh kapaksa parindah propesi tapi kudu tetep raket daleut pageuh jeung duduluran.

Bima-bima
duduluran lalaki sajati didasaran ku rasa iklas

keep on brotherhood lah...

Saturday, February 7, 2009

Gunung Tampomas saat caina

Anu ngala keusik teu merhatikeun analisis dampak kanu lingkungan anu jadi salah sahiji sabab utamana cai nyusu di wilayang sabudereun wilayang di Gunung Tampomas Kab Sumedang saat caina. Salian ti eta oge nyebabkeun hawa anu panas kacida dinu usum halodo, loba sasatoan anu mungkin ngurangan lantaran paraeh.
Salah sahiji lagu anu kalimatna "cimalaka jadi pamandian" anu dibawakeun Kang Doel teh bisa jadi kahareupna mah ngan ukur carita wungkul. Sabab tanda-tanda na ayeuna geus katingali pisan. Sawah hektaran loba anu gamblung, balong loba anu caina saraat, patani ngan saukur bisa nyawah sataun sakali ngandeulkeun usum hujan.
Pamarentah kota Sumedang boga tanggung jawab gede pisan lantaran geus ngalegalkeun jeung mere ijin kanu ngarala keusik. Lantaran hayang ningkatkeun PAD tapi kudu ngarusak lingkungan mah ke heula anan, salah gede. Pamarentah geus salah nyieun pilihan, kudunamah sabudereun gunung tampomas anu cur cor cai teh dijadikeun lahan usaha dinu widang lauk/perikanan, pertanian, wisata cai saperti tempat ngojay, jeung sajabana deui, pokona anu aya hubunganana jeung ngalestarikeun lingkungan.
Ayeuna mah teu kabayang, kahareupna kota Sumedang bakal naggung karugian anu kacida. Jadi teu satimpal jeung tinu hasil ngagali keusik. Kudu boga modal sabaraha keur ngarehabilitasi karusakanana, jeung can tangtu bisa malikeun deui cai nyusu bisa ngocor. Contohna cai nyusu ciburial, atawa cai nyusu cipanteneun anu geus ngaleutikan jeung cai nyusu cai nyusu laina oge.
Sangkan cai nyusu ngalocor deui, lauk si rawing1 anu mawa mitos jeung ngalegenda bijil deui, pamarentah kudu ngaeureunan mere ijin atawa nyaram kanu ngarala keusik. Salian tieta urut galian anu raruksak teh kudu bari dipelakan tatangkalan. Ngalihkeun kabiasaan warga anu geus katalanjur jadi tukang ngala keusik ka pagawean samemehna deui peternak atawa patani kujalan pamarentah mere dukungan satekah polah, modal jeung sajabana.

1. si rawing dicaritakeun nyaeta laukna kanjeng Pangeran anu nuju dituang tapi teu dilajegkeun teras dialungkeun deui ka cai sina jadi bibit ngarasuh lauk sejena. mitos tapi ceunah loba anu ningali keur jamanna cai nyusu cur cor. nn

Bima Bima
Anu rindu ka sawah jeung balong gede caina,
manuk pacikrak disarada unggal isuk
lauk emas kumpay bibit ngarajleng keur mijah

Bandung, 8 Februari 2009