Pages

Thursday, June 23, 2011

Kendaraan itu punya soul

Selamat pagi

Cerita kawan, motor yang dimilikinya sering membawa kecelakaan katanya.  Bahkan satu per satu dia menceritakan kisah kecelakaanya, mulai dari nabrak becak, nabrak pagar jalan yang baru dipasang, hingga jaduh terpelanting karena menghindari orang sekeluarga nyebrang.

Suatu saat motornya seolah olah dihukum, sebulan diparkir diluar, kena hujan kena panas kena dingin, hamper tiap hari diomelin dan ditendang tendang motornya.  Hukuman sebulan berjalan, akhirnya perdamaian. Motor dicuci tengah malam, mandi kembang bareng dengan yang punya sambil diajak ngobrol dan berdamai..

Wah sedikit kurang waras nih kayaknya kawanku..

Bagaimana ceritamu ?

 

__,_._,___

Friday, May 6, 2011

Gugurnya Gatot Kaca

Iya zan,

Keturunan pandawa pada bharatha yudha gugur tdk terkecuali gatot kaca. Gatot kaca sebenarnya sejak jabang bayi sudah gugur, dia dijadikan tumbal pada naga percona yang waktu itu ngamuk mau menghancurkan suarga loka (tempat para dewa dewi).

Kalahnya naga percona yi oleh sijenet (nama gatot kaca kecil) dan gugur juga. Namun sang ibunda kunti nalibrata (bangsa dedemit yg dikutuk dewa menjadi dewi cantik/ geulis) sangat bersedih akhirnya para dewa dewi mengadakan sindang istimewa, siding darurat.

Gatot kaca dibangunkan kembali lewat proses penggodokan dikawah candradimuka. Semua panca indera gatot gaca adalah dewa dewa. Diantaranya dewa saptapangrungu yang menjadi indera pendengaran gatotkaca. Maka jangan heran kalo gatot kaca sakti mandraguna, urat kawat tulang besi. Hehe. Jadi ibaratnya gatot kaca itu manusia jadi jadian / cyborg. Tidak ada satupun senjata dimuka bumi ini yang bisa mempan kpd nya.

Bagaimanapun kuatnya dan sakti mandragunanya gatot kaca tetap punya kelemahan, yaitu oleh satu senjata dari bangsa dewa itu sendiri. Senjata satu satunya itu namanya konta. Senjata yang diturunkan dewa batara surya kepada Adipati Karna (kakak para pandawa). Senjata ini sempat diperebutkan antara karna dan arjuna. Saat itu arjuna memerlukan senjata ini karena jabang bayi (gatotkaca) keponakannya, ari arinya (udelnya) tidak bisa dipotong. Pada perebutan senjata ini arjuna hanya mendapatkan warangkanya saja (wadah senjata konta itu). Namun bisa digunakan untuk memotong tali ari2 jabang bayi. Sekaligus menghilang. Kisah ini terjadi sendiri dan kisahnya sebenarnya panjang….

Mendung di kurusetra.., saat itu gatotkaca bertarung dengan gagahnya melawan Adipati Karna (pahlawan Kurawa) yang sebenarnya uwa nya sendiri. Nasib diri teu bisa dipungkir guratan takdir sudah dituliskan saat itu gatotkaca terbang ke awang awang sampai sampai menembus langit ke tujuh untuk menghindari senjata konta. Konon sebenarnya konta sudah tidak bisa lagi mencapainya namun karena supata Dewa (saya lupa asal muasal keluar supata ini) akhirnya konta menembus gatot kaca..

Gugurnya gatotkaca ini bikin sedih zan, sejak kecil saya mengidolakan dan tokoh wayang golek yg saya punya sejak kecil..

Kalau pertunjukan wayang di jawabarat keluarnya gatotkaca suka diiringi lagu “teu honcewang”, lagu yang sangat nasionalis.

Sejak tau cerita ini, tokoh yg saya sukai adl Bima

Segitu dulu zan cerita yang saya inget dikepala … versi yang saya sering dengar.

Tuesday, March 8, 2011

PKBS - Jembatan Merah Merdeka

Jembatan Merah Merdeka

Ku mang Ii

Inget terakhir kuring ka Bogor, dua taunan katukang. Indit ti Bandung kira kira jam salapan peuting, naek beus di terminal Leuwi Panjang, ceuk calo mah ieu teh beus terakhir anu langsung ka Bogor.

Geus kudu kitu meureun dongengna, kabagean beus kelas ekonomi anu butut, sapanjang jalan loba ngetem, majuna oge lalaunan pisan, panumpangna direretan teh rereana jalu, euweuh pikaresepeun lamun kudu nuluykeun carita dijero beusna mah. Perjalanan ka Bogor keur kuring mah nostalgiaan, sapanjang jalan panon teu bisa reup sare, panasaran hayang ulak ilik kaluar tinu kaca beus.

Nepi ka Puncak beus mogok, eremna bermasalah cenah, ka jero ruangan beus kaambeu hangit. Kuring jeung panumpang sejena kalaluar, harita wanci nunjukeun jam dua belasan peuting. Rada lila oge nungguan eta beus di uma ome heula ku kenek jeung supirna nepi ka benerna.

Singketna nepi oge ka Jembatan Merah Merdeka Bogor (teu disundakeun jadi Jambatan beureum) wanci janari. Teu loba robah kaayanana ti saprak sapuluh taunan katukang harita mimiti kuring nincak Jembatan Merah. Teu anggang ti jembatan, gedung gedung heubeul masih aya, anu sok jadi perhatian kuring mah gedung tingkat anu bentukna mirip beus tingkat, lamun teu salah toko elektronik Irama Nusantara ngarana.

Tibaheula nepi ka ayeuna keur kuring jembatan Merah Merdeka jadi patokan janjian. Arek ka kampus Darmaga ereun heula didieu, arek ka Jakarta ti Darmaga oge kitu sabalikna. Papagah anu masih inget ti samemeh kuring nincak Jembatan Merah Darmaga nyaeta “kudu ati ati cenah lamun leumpang didieu, loba copetna”

Sakitu heula ..

,___

Thursday, February 10, 2011

Jembatan merah dan merdeka

Duduk di kantor sambil menunggu jumaatan nanti, cerita cerita sedikit.

Ingat terakhir kali ke bogor dua tahunan yang lalu, berangkat malam dari Bandung jam 9 an.

Naik bis dari terminal Leuwipanjang Bandung, bis jam jam terakhir katanya yang menuju langsung ke Bogor.

Harus sedah begitu mungkin ceritanya, kebetulan dapat bis yang tidak terlalu bagus dan banyak ngetem, jalannya pun lambat, penumpangnya rata-rata pria dewasa. Pokoknya kurang menarik lah kalo diceritakan kondisi dalam bis nya.

Tetapi perjalanan menuju Bogor punya nostalgia sendiri, bagaimanapun juga bagi saya. Diluar dugaan sampai puncak bisnya mogok (temen temen sekarang bilangnya mejus), padahal sepanjang jalan sedang asik memandang apa saja yang dilalui, sengaja tidak tidur dan duduk di samping kaca. Ini sekarang menjadi begini, itu sekarang menjadi begitu, pikiran meracau sendiri. Sekitar jam 12 an tengah malam tertahan lama.

Singkat singkatnya atau lama lama nya akhirnya sampai juga di Jembatan Merah Merdeka Bogor, atara jam 3 atau 4 dini hari (pagi). Gak banyak berubah seperti begitulah jembatan merah sejak pertama kali ke Bogor pun, diseberangnya atau tidak jauh terdapat gedung bergaya lama, masih ada/lestari, gedung yang bentuknya mirip dengan bis tingkat selalu menjadi perhatian, buat sendiri. Tetapi sejak dulu gak pernah bertanya itu gedung apa, namanya. Ada yang tau kawan ?

Tak jauh dari jembatan merah saya lama duduk di bangku tukang bubur yang sudah mulai rame, suasana seperti pasar pagi. Yang jelas rekaman dan pikiran saya lebih panjang dari cerita ini campur aduk.

Merdeka dan jembatan merah itu seperti patokannya arah, mau ke Jakarta berhenti dulu di situ, mau ke Darmaga berhenti juga disitu. Oh iya, sejak pertama kali ke bogor (darmaga) pesan tentang jembatan merah yang selalu masih ingat “hati hati kalau jalan disitu banyak copetnya” masih berlaku enggak kawan ?

Bandung, 11 February 2011

Monday, November 29, 2010

Langit kampungku

08.30. 22 Nov 2010

Langit kampungku
Biru dengan awan awan putih menggantung. Burung burung kapinis sudah aktif beterbangan tanpa lelah. Menyambut pagi, petani dan warga kampungku.
Petani musiman bisa dikatakan begitu. Musim hujan bertani dan ketika kemarau berdagang ke kota.
Berkah tahun ini, hujan turun sepanjang tahun, lahan yang biasanya dua kali ditanam padi dan sekali "gamblung" (dibiarkan tanpa ditanami), kini tiga kali mendapatkan panen.
Pagi ini di bawah langit dengan awan awan putih menggantung tadi, sebagian bergegas menjemur palawija di halaman halaman yang masih luas, ukurannya kira kira sepertiga lapangan sepakbola. Ditempat lain, cerita lahan-lahan tadi. Kini juga nampak sibuk. Tangan tangan kekar, perkasa, sehat, kuat mengayunkan cangkul, mengendalikan traktor, membabat rumput, menyemai benih. Begitu.
Aktivitas ini berlangsung hingga menjelang dzuhur (kira-kira jam 12 siang, tak begitu tetap).
Masih di bawah langit biru dengan awan-awan yang tadi lagi. Berbahagialah pemilik tubuh2 sehat, dengan lebih banyak waktu bercengkrama dengan alam. Tanpa AC (air conditioner) dan monitor.
"Kita friend kan" katanya. Ah saya mau lebih hehe.

(Waktu cuti kemarin)
Salam
Bima bima