Pages

Wednesday, July 28, 2010

Ibu

Ibu saya masih bertanya seperti saya berusia 7 tahun
Pertanyaan pertanyaan mendasar dan khawatir

Sekarang bertambah satu pertanyaan walau tak sering
" kabogoh anu geulis tur soleh teh tos kenging ?"

Semoga ibu sehat selalu

Tuesday, July 13, 2010

Si Kumbang tak jadi talak 3

Si Kumbang tak jadi talak 3

 

Mau cerita sedikit ririungan (kumpul kumpul) kecil, obrolan malam minggu kemarin,.

Berhubung saya agak sukar mencerna obrolan2 kalo sudah menyangkut hal permesinan, jadi mau cerita sedikit mengenai si kumbang saja.

Namanya si kumbang, seperti serangga yang biasanya sering diidentikan dengan pria/laki laki yang suka mencari bunga bunga (baca: gadis) di taman, tapi si kumbang yang saya ceritakan ini entah ada hubungannya atau tidak, belum sempat tergali dalam sampai kesana.  Yang jelas si kumbang yang ini adalah motor C70, kalau di tempat saya trend namanya bekjul alias bebek tujuhpuluh, namun usut punya usut si kumbang yang berwarna hitam  ini kenyataannya Honda Legenda thn 2003 (?).  pengakuan didapat ketika sikumbang dikejar kejar aparat karena menyalip di jalanan ibukota, dan konon sikumbang bisa lari hingga kecepatan 90 Km/jam, si aparat awalnya geleng geleng namun akhirnya bisa menghentikan paksa si kumbang, namun tak jadi menilang tetapi malah minta referensi tempat rombakan motor seperti si kumbang..

Si kumbang bukan motor yang dimanja manja, dilap sering tetapi jarang dipake, justru sebaliknya sering dipakai kerja tetapi jarang dilap, kerjanya pun berat.  Sikumbang sering dipaksa mengangkut bawaan yang melebihi kapasitas normal, bawaan segede Gunung Tampomas pun dia sanggup membawanya. 

Walau demikian sikumbang bukan juga motor yang cengeng, dikit dikit mejus atau mogokan.  Sekalinya ban bocor pun tinggal lirik kanan dan kiri selalu pas dengan tukang tambal, tak pernah merepotkan.  Si kumbang juga yang pernah mengantar perjalanan jauh hingga ke kota Yogyakarta dan Bandar Lampung dll, wah pokoknya telah banyak sekali jasa jasa si kumbang.

Namun pada kenyataannya akhirnya si kumbang pun niat akan dijual, dengan uang tawaran yang tinggi sehingga uang hasilnya pun bisa dibelikan motor baru lagi.  Singkat cerita sikumbang esok hari akan dijual, namun sebelumnya diajak bekerja seperti biasanya, gak tau kenapa menjelang pulang tiba tiba yang punya mengajak ngobrol sikumbang seolah olah dia bisa bicara, “ hey kumbang besok kamu akan ada yang beli, kmu mau saya jual kumbang” sikumbang yg bicara sama sama diperankan yang punya seolah olah menjawab “ iya” . 

Dari obrolan antar dua pribadi ini (orang dg motor) kenapa tiba tiba yang punya merasa sangat sedih untuk berpisah, untuk meninggalkan kenangan dan jasa jasa, dan akhirnya pun ditutup dengan kata kata sambil berlinang air mata “kumbang tak tega aku menjualmu, jual belinya dibatalkan saja”

Dan setibanya di rumah sikumbang dicuci, sampai ban nya pun bersih dari tanah, terus dipandangi dan ngomong ke sang istri “mamah coba lihat sikumbang, cakep kan?” sang istri pun merespon “ !!?? “ mesem.

 

Bagi pemilik si kumbang mohon izin menceritakan kisah ini, kalau ada kesalahan krn kesalahan penulis

 

Salam

 

Bima bima

Ka kolot kudu hormat, ulah poho ka purwadaksina

Monday, June 14, 2010

Remaja oh gadis racing

Hahay tangan ini menjadi kaku untuk menulis dan otak juga menjadi beku membuat kata kata yang sesuai dengan ejaan dan sedikit runut. Okey okey satu paragraph sajalah, menceritakan pandangan mata yang terus menempel di kepala akhir akhir ini.

Tampak oleh pandangan mata, Gadis masih muda usia belasan dengan seragam putih biru, berdiri didepan gerbang sekolah yang tampak mewah, tinggi, begitu juga pagar nya yang terbuat dari besi tinggi juga. Seperti rata rata/biasanya sekolah sekolah kota dibuat dengan gerbang dan pagar tinggi tinggi, mungkinkah terlalu banyak siswa yang bolos dan datang kesiangan, mungkin ya, karena sepertinya gak mungkin kan ada kambing masuk dan berkeliaran. Ngawur. Lanjut kecerita, gadis muda tampak mengobrol asik dengan teman perempuannya, waktu menunjukan jam dimana saatnya bubaran proses belajar mengajar, istilahnya padahal belajar sebenarnya tidak mengenal ruang dan waktu, teorinya. Oh ternyata kedua gadis itu menunggu teman laki lakinya masing-masing menjemput, bukan teman sekelasnya tampaknya, tak berani kukatakan pacarnya, kedua anak gadisnya saja masih SMP kok. Akhirnya kedua laki laki yang ditunggu tiba dengan sepeda motor masing masing, sejenak tampak bercerita sebelum kedunya naik, kedua laki-laki ini tidak membawa helm kecuali yang dia kenakan, mungkin lupa. Tetapi terkadang laki-laki membonceng perempuannya, temannya atau kekasihnya tanpa membawakan helm, nah loh. Tetapi kedua gadis belia ini tampak riang saja kok, rambutnya yg hitam tampak indah tersibak angin, dan malahan dengan sengaja dimainkan supaya tersibak sibak oleh angin, begitulah tampak sepanjang jalan sambil bercanda canda dan sesekali tertawa sampai akhirnya luput dari pandangan mata. Untuk saat itu aku yang duduk di bangku belakang angkutan umum.

***

Sunday, May 30, 2010

Kopdar 1 CCC Bandung

Sekedar pengantar kopdar 1 CCC Bandung

Lokasi pertemuan dipilih di depan gedung sate Bandung, parkiran umum, ongkosnya 2 rb, niatnya biar keliatan Bandungnya tapi kalo kata kang Ramlan biar saya dekat ke lokasi hehe. Yang datang dan sempat bertemu dilokasi ini spt di foto, kang rofi (baju oranye cerah), kang Yadi (jaket hitam kombinasi merah), kang Ramlan (sweeter coklat), sekalian memperkenalkan juga.

Pa Pancha (foto lainya: mengenakan jaket hitam) datang menyusul dan bertemu di RM Bancakan Jl Trunojoyo, saat itu beliau masih saya panggil akang, eh ternyata beliau ini pas nya untuk jajaran Dewan Pembina per cb an. Setelah makan dan beberapa saat ngobrol2 kemudian dilanjutkan bertemu ke Komunitas CB Bandung di depan Gd. Geologi Bandung Jl Diponegoro. Jangan salah ditraktir ngopi juga geratis lagi hehe. Berhubung Komunitas Cb Bandung ada undangan, kopdar CCC pindah lagi ke Ngopi Doeloe, ngopi pait lagi, dilanjutkan ngobrol sampai café nya tutup. Intinya belum ada tempat.

Adapun yang berhalangan hadir dan sempat kontak2: Bro Frino dan Kang Ari Suryadi, yang lainnya maaf belum ada no kontaknya

Ditunggu cerita di kota lainnya


.

__,_._,___

Friday, May 14, 2010

Kaki Gunung Tampomas dan Jagur



".....dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali
dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati......."


Begitulah pagi itu dibuka oleh penggalan lagunya bejudul "Kembang Boled" yang dipopulerkan penyanyi bernama Bungsu Bandung. Masih penyanyi asal daerah itu meski tidak tepat di kaki Gunung Tampomas, Sumedang. Meluncur dari bibir penyanyi lokal ,diiringi kendang penca yang mulai dipukul dan bunyi terompet khas. Untuk pertunjukan salah satu kesenian khas tatar Pasundan, Jawa Barat " Ngadu domba " atau kesenian tangkas domba.

Menonton pertunjukan ini mungkin tidak semuanya suka, karena domba yang diadu membuat sebagian penonton mungkin merasa ngilu, kepala pusing ataupun kasian terhadap dombanya. Namun itulah kesenian tangkas domba yang sebagian besar penggemarnya didominasi oleh kaum pria. Kesenian ini turun temurun dan sekarang semakin variatif. Tidak hanya bagaimana domba diadu tetapi itu hiburan, bagaimana kesenian lainnya juga dapat tampil dan eksis. Apresiasi atau motivasi peternak domba kambing untuk lebih menghasilkan domba domba berkualitas.

Jagur, nama motor sudah duluan diparkir di pinggir arena yang mungkin sebentar lagi penuh penonton. Pa Kuwu Encep dengan pakaian serba hitam memakai topik laken (topi koboy) seperti di Texas sana tampak gagah memimpin ditengah arena sebagai wasit pertandingan, tampak juga Mang Engkus sama memakai pakaian hitam, si wakwak, Asep Beben dan penonton lainnya yang rata berpakaian hitam hitam dengan memakai
totopong (iket kepala) khas sunda. Hari itu, minggu ke tiga setiap bulannya di arena Dasa Grup "Kaki Gunung Tampomas" terlihat ramai dengan hadirnya banyak tamu undangan dari berbagai kota di Jawa Barat.

Arena Dasa Grup (berlokasi di kaki Gunung Tampomas), diambil dari nama salah satu domba milik Haji Abidin, domba yang terkenal gagah pada masanya, dengan tanduk berdiri kokoh, dan memiliki bulu yang bagus kalau sedang tanding tampak sebagai satria (berani). Jangan salah domba bisa memiliki nama nama yang bagus, seperti si pilar, si sinar, jenet, si baranyay, barasat dan lain sebagainya.

Pertunjukan dimulai, kang cece tampil kedepan ngibing (menari) silat mengiringi dombanya yang masuk arena musik pengiring meriah, tak kalah sang lawan dari kota lain menyambut masuk arena sebagai lawan memasukan dombanya, Kuwu Encep sigap memimpin. Kemudian domba diadu 15 hingga 30 hitungan tergantung usia domba dan kelas*. Yang punya akan tampak senang kalau domba diadu serasi, mundur yang panjang kemudian lari maju kencang menerjang dengan gesit, apalagi kalau kaki domba seolah menyusur tanah yang dipijak. Itulah domba unggulan dan akan melambungkan nama domba tersebut, pemiliknya hingga harga jualnya bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Pemilik tampak senang setelah domba diadu gagah, kemudian setelah itu biasa merequest lagu "Kembang Gadung" salah satunya sambil ngibing penca memperlihatkan jurus jurus ibing, tak kalah gagah dari jagoannya. Diakhiri sawer ke pengiring. Begitulah pertunjukan ini berulang sampai hari menjelang siang.

Jagur pun pergi beranjak dari parkir untuk perunjukan lainnya yang gak kalah menarik... gas pol*** (next story)




Note (*
Kelas kelas domba (biasanya berdasarkan ukuran dan bobot)
A : kelas paling besar dengan berat 60 - 80 kg
B : kelas dibawahnya dengan berat 40 - 59 kg
C : kelas dengan berat 25 - 39 kg
D : kelas dengan berat di bawah 25 kg

Usia domba biasanya ditandai dengan jumlah gigi tanggal berdasarkan urutan usia muda ke tua :
satu kali artinya dua gigi tanggal (peunglak dua)
dua kali artinya empat gigi tanggal (penglak opat)
hingga empat kali artinya delapan gigi tanggal


Bandung, 15 Mei 2010